Posted by: sdmsardjito | September 20, 2008

Kenali 13 Gangguan Kesehatan Usia Senja

SEHAT, bermanfaat, mandiri dan bahagia di usia senja atau lanjut, menjadi harapan setiap insan. Berbagai cara dilakukan manusia agar masa tuanya bahagia lahir-batin, jasmani-rohani, mental-spiritual. Menurut dr Probosuseno SpPD K-Ger dari (SMF Geriatri RS Dr Sardjito/Bagian Penyakit Dalam FK UGM Yogyakarta), untuk meraih kondisi pra lansia dan lansia yang sehat, bermanfaat, mandiri dan bahagia, memang perlu pendekatan populer medis sekaligus religius.

“Manusia mengalami proses semakin tua atau menua karena takdir. Ada banyak teori tentang proses menua, antara lain teori radikal bebas Harmon, teori glikosilasi Monnier, teori laju reparasi DNA, teori mutasi DNA, dan lain-lain,” ujar dr Probosuseno saat berbicara pada seminar kesehatan di Yogyakarta beberapa waktu lalu.
Gejala Menua
Gejala menua ada beberapa hal. Menurut dr Probosuseno, gejala itu antara lain rambut yang rontok dan memutih, kulit keriput, gigi ompong, kemampuan penglihatan dan pendengaran berkurang, perubahan pada otot dan kerangka, serta perubahan sistem saraf pusat dan sistem endoktrin.
Ada penurunan kualitas organ-organ tubuh manusia baik luar maupun dalam yang terkenal dengan hukum 1%, yaitu akan menurun 1% setiap tahun kualitas tubuhnya, baik organik maupun fungsional setelah usia 30 tahun.
Dari sisi psikologis dinyatakan, para lansia kejiwaannya hampir mirip dengan anak-anak balita. Mereka ingin/senang sekali jika diperhatikan, disayang, dipuji, dicukupi kebutuhannya, disapa, dan sangat tidak senang jika dicacimaki, dicemooh, dibiarkan, dan sejenisnya. Problema psikis pada lansia yang paling sering adalah kesan diri (self image), transisi, kesepian, duka cita, kecemasan, depresi, bahkan ada pula yang psikologis.
Sedang gangguan (kelemahan) yang banyak terjadi pada lansia antara lain:
1. Immobility (tak dapat bergerak akibat dekubitus atau pressure sores).
2. Instability (mudah terjatuh atau roboh dengan akibat patah tulang, terlebih lagi jika ada kelainan tulang seperti osteoporosis).
3. Incontinence (tak terkendali baik buang air besar maupun kecil).
4. Impairment (kelemahan pada intelectual atau pikun, kelemahan penglihatan, pendengaran, rasa, komunikasi, dan sebagainya).
5. Infection atau mudah kena infeksi.
6. Irritable colon (impaction/constipation) atau sulit buang air besar.
7. Isolation (menyendiri, depresi).
8. Inanition (malnutrisi, salah atau kurang gizi).
9. Impecunity (miskin).
10. Iatrogenesis (munculnya penyakit/gangguan tubuh akibat pemberian suatu obat yang ditujukan untuk mengobati suatu penyakit).
11. Insomnia (sulit/gangguan tidur).
12. Immunodeficiency (daya tahan tubuh lemah/mudah terserang penyakit).
13. Impotence (gangguan menurunnya kemampuan seksual).
Penampilan penyakit pada lansia ini sering insidious atau tidak jelas, kronik, lebih banyak bersifat endogen, tersembunyi, multipel, progresif, tidak memberikan kekebalan, bahkan justru lebih rentan terhadap penyakit, serta menyebabkan cacat lama sebelum terjadinya kematian.
Bagaimana agar stamina tetap fit, bahagia dan berguna pada usia lanjut? dr Probosuseno menyarankan beberapa langkah yang sebaiknya dilakukan. Antara lain, lakukan langkah luar-dalam dengan rumus SLEMAN.
Seimbangkan berat badan: Hindari kegemukan (atur makanan karena faktor gizi berpengaruh penting sekitar 30-50% dalam mencapai kesehatan optimal lansia. Kebutuhan energi kebanyakan menurun sesuai aktivitas fisik yang juga menurun. Kurangi lemak jenuh dan karbohidrat yang berlebih. Makan makanan berserat yang cukup, bentuk makanan sesuai daya terima.
Perhatikan pula Syukur, Sabar, Senangkan diri dan lingkungan, Sleep (cukup tidur).
Lingkungan yang bersih, sehat, aman dan nyaman, merupakan faktor penentu pula. Lakukan olahraga atau Latihan yang teratur dan terukur.
Enyahkan risiko penyakit kardiovaskuler seperti merokok, hipertensi, dislipidemia berupa kolesterol dan trigliserida tinggi, kegemukan, diabetes mellitus, tidak olahraga, dis-stress dengan silaturahmi, seni budaya, olahraga, perencanaan yang matang, latihan ikhlas.
Memiliki kegiatan atau hobi yang berguna, Membaca, Minum yang cukup.
Agama dilaksanakan secara nyata dengan 7 S (syukur, sabar, salat/sembahyang, shoum (puasa), silaturahmi, sodaqoh, dan serahkan diri pada Allah SWT semua yang telah dan akan terjadi atau tawakal.
Nasihat dokter ditaati, sebagai bentuk pencegahan sebaiknya melakukan check up secara rutin dan tepat, misalnya papsmear, mammografi, tes darah, urine, feses rutin, assemen geriatri atau check up lansia, fungsi liver dan ginjal (kolesterol, trigliserida, ureum, kreatinin, asam urat, dan lain-lain).
Selain itu, lakukan pula tindakan kuratif, promotif, dan rehabilitatif. Untuk yang mengidap darah tinggi, kurangi konsumsi garam, berat badan jangan berlebih dan lakukan olahraga serta pengobatan secara teratur.

Sumber : http://www.kr.co.id


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: